WANAPAC

Materi Mountainering

Rabu, 10 Juni 2015

MATERI MOUNTAINERING Mendaki gunung adalah suatu kegiatan keras, penuh petualangan, membutuhkan keterampilan, kecerdasan, kekuatan, dan daya juang yang tinggi. Bahaya dan tantangan yang seakan hendak mengungguli, merupakan daya tarik dari kegiatan ini. Pada hakekatnya bahaya dan tantangan tersebut adalah menguji kemampuan dirinya untuk bersekutu dengan alam yang keras, keberhasilan suatu pendakian yang sukar dan sulit berarti keunggulan terhadap rasa takut dan kemenangan terhadap perjuangan melawan dirinya sendiri. B. PENGERTIAN DAN TUJUAN KEGIATAN MOUNTAINEERING – Mountain = Gunung – Mountaineer = Orang yang berkegiatan di gunung – Mountaineering = Segala sesuatu yang berkaitan dengan gunung atau dalam arti yang luas berarti suatu perjalanan yang meliputi mulai dari hill walking sampai pendakian ke puncak-puncak gunung yang sulit Banyak alasan orang melakukan kegiatan mountaineering namun pada dasarnya keitan itu dilakukan untuk : 1. Mata pencaharian 2. Adat Istiadat 3. Agama /Kepercayaan 4. Ilmu Pengetahuan 5. Petualangan 6. Olahraga 7. Rekreasi C. TERMONOLOGI GUNUNG a) Gunung : Suatu puncak ketinggian dari atas permukaan laut dan dataran di sekelilingnya. b) Pegunungan : Barisan/sekumpulan gunung yang saling berdekatan. c) Bukit : Gunung Yang ketinggianya tidak lebih dari 600 mdpl d) Perbukitan : Barisan/sekumpulan bukit yang saling berdekatan. e) Tebing : Lereng pada dinding gunung yang terjal f) Sadel : Pertemuan dua titik pada satu punggungan g) Pass : Celah panjang diantara dua punggungan h) Col : Celah sempit diantara dua puncak i) Plateau : Dataran tinggi diatas daerah ketinggian j) Summit : Puncak D. SEJARAH SINGKAT MOUNTAINEERING Pendakian gunung sebenarnya telah dilakukan oleh para nenek moyang kita yang dimulai dengan bapak manuasia Nabi Adam AS yang menjelajahi bukit tursina untuk mencari cintanya Siti Hawa. Siti Hajar yang telah lintas dari bukit marwah ke bukit Safa ditemani dengan sherpa JIBRIL untuk mencari air bagi ismail yang lagi kehausan. Dan pendakian demi pendakian hingga saat ini masih terus berlangsung dan kelak (tak lama lagi ) giliran kalian untuk melanjutkan amanah menjaga kelanggengan kemanusian. a. Sejarah Dunia 1942 : Anthoine de Ville memanjat tebing Mont Aiguille (2907 m) di pegunungan alpen untuk berburu chamois (Kambing gunung) 1624 : Pastor pastor Jesuit, melintasi pegunungan himalaya dari gharwal di Iindia ke Tibet menjalankan tugas misionarisnya 1760 : Professoe de Saussure menawarkan hadiah besar bagi siapa saja yang dapat menaklukkan puncak mont blanc guna kepentingan ilmiahnya. 1786 : Puncak tertinggi di pegunungan alpen Mont Blanc (4807 m) akhirnya dicapai oleh Dr. Michel Paccaro dan Jacquet Balmat. 1852 : Batu pertama jaman keemasan dunia keemasan di Alpen diletakkan oleh Alfred Wills dalam pendakiannya ke puncak Wetterhorn (3.708 m), cikal bakal pendakian gunung sebagai olah raga. 1852 : Sir George Everest, akhirnya menentukan ketinggian puncak tertinggi dunia, dan di abadikan dengan namanya (8.848 m), orang Nepal menyebut puncak ini dengan nama sagarmatha, orang tibet menyebutnya chomolungma. 1878 : Clinton Dent (bukan pepsoden) memnjat tebing Aigullie de dru di perancis yang memicu trend pemanjatan tebing yang tidak terlalu tinggi tetapi cukup curam dan sulit, banyak orang menganggap peristiwa ini adalah kelahiran panjat tebing 1895 : AF Mummery orang yang disebut sebagai bapak pendakian gunung modern hilang di Nanga Parbat (8.125 m), pendakian ini adalah pendakian pertama puncak di atas ketinggian 8.000 m 1924 : Mallory dan Irvina mencoba lagi mendaki Everest, keduanya hilang di ketinggian sekitar 8.400 m 1953 : Pada tanggal 29 mei Sir Edmund Hillary dan Sherpa Tenzing Norgay akhirnya mencapai atap dunia puncak everest. b. Sejarah Indonesia 1623 : Yan Carstenz adalah orang pertama melihat adanya pegunungan sangat tinggi, dan tertutup salju di pedalaman irian 1899 : Ekspedisi Belanda pembuat peta di Irian menemukan kebenaran laporan Yan Carstensz hampir 3 abad sebelumnya tentang “ … pegunungan yang sangat tinggi, di beberapa tempat tertutup salju!” di perdalaman Irian. Maka namanya diabadikan sebagai nama puncak yang kemudian ternyata merupakan puncak gunung tertinggi di Indonesia. 1962 : Puncak Carstenz akhirnya berhasil dicapai oleh tim pimpinan Heinrich Harrer. 1964 : Beberapa pendaki Jepang dan 3 orang Indonesia, yaitu Fred Athaboe, Sudarto dan Sugirin, yang tergabung dalam Ekspedisi Cendrawasih, berhasil mencapai Puncak Jaya di Irian. Puncak yang berhasil didaki itu sempat dianggap Puncak Carstensz, sebelum kemudian dibuktikan salah. Puncak Eidenburg, juga di Irian, berhasil di daki oleh ekspedisi yang dipimpin Philip Temple. Dua perkumpulan pendaki gunung tertua di Indonesia lahir : Wanadri di Bandung dan Mapala UI di Jakarta, lalu di susul oleh perkumpulan perhimpunan pencinta alam lainnya mulai dari, MPA,SISPALA, KPA, ERNIPALA, MODIPALA dan sebagainya 1972 : Mapala UI, diantaranya adalah Herman O. Lantang dan Rudy Badil, berhasil mencapai Puncak cartenz. Mereka merupakan orang-orang sipil pertama dari Indonesia yang mencapai puncak ini. E. PERSIAPAN DALAM SEBUAH PERJALANAN 1. Dapat berpikir secara logis. Ini adalah elemen yang terpenting dalam membuat keputusan selama pendakian, dimana cara berpikir seperti ini lebih banyak mempertimbangkan faktor safety atau keselamatannya. 2. Memiliki pengetahuan dan keterampilan. Meliputi pengetahuan tentang medan ( navigasi darat) ,cuaca dan teknik pendakian , pengetahuan tentang alat pendakian atau pemanjatan dan sebagainya. 3. Dapat mengkoordinir tubuh kita. a. koordinasi antara otak dengan anggota tubuh. – Haruslah terdapat keseimbangan antara apa yang dipikirkan di Otak dan apa yang sanggup dilakukan oleh tubuh. – Keseimbangan antara emosi dan kemampuan diri. – Ketenangan dalam melakukan tindakan . b. koordinasi antar anggota tubuh. Ialah keseimbangan dan irama anggota tubuh itu sendiri dalam membuat gerakan-gerakan atau langkah- langkah ketika berjalan atau diam 4. kondisi fisik yang memadai. Ini dapat dimengerti karena mendaki gunung termasuk dalam olahraga yang cukup berat . Seringkali berhasil tidaknya suatu pendakian / pemanjatan bergantung pada kekuatan fisik. Untuk mempunyai kondisi fisik yang baik dan selalu siap maka jalan satu-satunya haruslah berlatih. 5. Berdoa Selamat Mendaki !!!!! F. Jenis Perjalanan Berdasarkan Tingkat Kesulitan Medan. Perjalanan baik pendakian atau pemanjatan berdasarkan pada tingkat kesulitan medan yang dihadapi dapat dibagi sebagai berikut: 1. Walking : Berjalan tegak, tidak diperlukan perlengkapan kaki yang serius. 2. Hiking (hill walking) : Medan sedikit bertambah sulit sehingga dibutuhkan perlengkapan kaki yang memadai. 3. Climbing a. Rock Climbing : Pemanjatan pada medan batu . – Scrambling : Medan semakin curam sehingga dibutuhkan bantuan tangan untuk menjaga keseimbangan tubuh. Praktis tidak memerlukan tali ataupun perlengkapan lainnya yang khusus. – Technical Climbing : Pemanjatan pada permukaan tebing yang sulit. Dibutuhkan teknik khusus dan bantuan peralatan. Jenis ini di bagi dua, yaitu : Ø Free Climbing: Rute yang dilalui sulit sehingga dibutuhkan tali, alat-alat dan teknik yang khusus untuk melindungi bila terjatuh . Patut diperhatikan bahwa alat –alat disini hanya berfungsi sebagai alat- alat pengaman saja dan bukan sebagai penambah ketinggian. Ø Artificial Climbing: Tebing hanya memberikan celah yang sangat tipis atau bahkan tidak ada sehingga penggunaan tangan dan kaki saja adalah mustahil. Untuk itu pendakian jenis ini sepenuhnya tergantung kepada perealatan yang juga dipergunakan secara langsung untuk menambah ketinggian . Dapat dikatakan ketinggian kita dapat terus bertambah hanya semata-mata karena bantuan alat-alat seperti tangga tali dfan sebagainya. b. Snow/Ice Climbing : Pemanjatan pada medan es dan salju 4. Expedition : Kegiatan pendakian yang membutuhkan berbagai pengetahuan dan membutuhkan waktu yang lama serta memerlukan pengorganisasian tertentu dengan berbagai variasi medan yang harus dilalui G. Sistem/Teknik pendakian Tidak semua medan yang dilalui untuk menuju puncak itu seragam sehingga ada beberapa sistem/teknik yang dilakukan untuk menuju puncak yang harus disesuaikan dengan karakter medan. Pada beberapa pendakian kita kenal ada tiga buah sistem/teknik pendakian yaitu : 1. Alpin Taktik : sistem pendakian ini biasa dilakukan pada medan yang jaraknya tidak terlalu jauh, dan tidak kembali lagi ke base camp serta seluruh tim pendaki harus dapat mencapi puncak (taktik ini berkembang di pegunungan alpen yang karakternya sangat sesuai dengan taktik ini) 2. Himalayan taktik : Sistem pendakian ini biasa dilakukan pada medan yang jaraknya cukup jauh sehingga untuk menuju puncak ada beberapa base camp yang didirikan guna melakukan sistem drop barang, pada taktik ini tidak semua anggota tim harus mencapai puncak (taktik ini berkembang di pegunungan himalaya yang karakternya sangat sesuai dengantaktik ini) 3. Siege taktik : Gabungan antara Alpin Taktik dan Himalayan taktik. Penyeberangan Basah Ada beberapa teknik/tips dalam melakukan penyeberangan disungai : Carilah Jembatan Jika jembatan tidak ada jangan berharap ada yang mau buatkan jadi carilah daerah aliran sungai tak beriak, deras dan dalam biasanya semakin ke hulu aliran sungai seperti itu ada Jika kalian menyeberangi sungai dan ada tali, ada yang tau berenang ada juga tidak maka itu yang tau berenang menyeberang kesebelah dengan diikat tali lalu tali tali itu di tambatkan sudah itu nyebrang mako Pada saat menyeberang sungai kalian bisa membawa tongkat untuk menjaga keseimbangan dan juga berguna untuk mengukur kedalaman air Ingatlah jika menyeberang sungai jangan pernah membelakangi arah arus air hadapilah walau itu deras karena kalian akan jauh lebih kokoh dan lintasan jalur yang kalian lalui ada baiknya diagonal begitupun jika kalian menyeberang secara tim. Selamat Mendaki !!!!!

Pengenalan Dasar Caving (Susur Goa)

Jumat, 05 Juni 2015

Pengenalan dasar CAVING ( susur goa ) SPELEOLOGY berasal dari kata Yunani, Spalion (gua) dan Logos (ilmu).Sehingga dapat diartikan speleologi adalah ilmu yang mempelajari gua beserta ilmu dan lingkungannya. Menurut IUS (Interna-tional Union Of Speleology), yang berkedudukan di Wina Austria : Gua adalah setiap ruangan bawah tanah yang dapat dimasuki orang. Gua memiliki sifat yang khas dalam mengatur suhu udara di dalamnya, yaitu sangat stabilnya suhu udara yang ada. Menurut catatan yang ada, penelusuran gua dimulai oleh John Beaumont, ahli bedah dari Somerset, England (1674). Ia adalah seorang ahli tambang dan geologi amatir. Orang yang paling berjasa mendeskripsikan gua adalah Baron Johan Valsavor dari Slovenia. Ia mengunjungi 70 gua, membuat peta, sketsa dan melahirkan empat buku setebal 2800 halaman. Untuk wisata gua pertama kali tercatat tahun 1818, ketika Kaisar Habsbrug Prancis I dari Austria meninjau gua Adelsberg (sekarang bernama gua Postojna) terletak di Yugoslavia. Sedangkan di Indonesia, faktor mistik dan magis masih melekat erat di gua-gua. Baik sebagai tempat pemujaan, sesaji maupun bertapa. Bahkan sering dianggap sebagai tempat tinggal makhluk !! Dalam penelusuran gua sangat ditekankan suatu etika yang harus dipegang teguh oleh para penelusur dan hal ini sudah menjadi motto NSS (National Speleological Society). Etika tersebut yaitu : ª Take Nothing But Picture (Tidak mengambil sesuatu kecuali foto) ª Leave Nothing But Footprints (Tidak meninggalkan sesuatu kecuali jejak kaki) ª Kill Nothing But Time (Tidak membunuh sesuatu kecuali waktu) ILMU YANG BERKAITAN DENGAN SPELEOLOGI 1. Geomorfologi Adalah keadaan permukaan daerah kawasan gua merupakan suatu bentang alam yang khas. Khususnya di daerah karst, adanya bukit karst yang berbentuk cone karst, tower karst maupun bentuk morfologi lain seperti dolina, ovala, cockpit, sungai, maupun bentuk-bentuk lain yang merupakan ciri kawasan karst yang mengalami proses pelarutan. 2. Klimatologi Keadaan iklim suatu daerah mempunyai pengaruh terhadap lingkungan gua, baik itu flora dan fauna, maupun bentuk fisik gua. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan suhu, tekanan, curah hujan yang ada di daerah tersebut. 3. Hidrologi Merupakan cabang ilmu yang berkaitan dengan mempelajari proses terbentuknya lorong gua yang disebabkan oleh aliran air baik secara fisik maupun kimiawi. Selain itu, proses terbentuknya ornamen gua seperti stalaktit, stalakmit, canopy, gourdam, dll, endapan dalam gua,sungai bawah tanah, yang kesemuanya itu merupakan bagian dari proses terbentuknya gua. 4. Geologi Bagi ahli geologi, gua sangat menarik. Mempelajari bagaimana terbentuknya batuan karbonat atau gamping, batuan vulkanik, dan metamorfosa. Juga mempelajari tentang Tektonik, seperti pelipatan, pengangkatan dan pergeseran. 5. Biologi Ekosistem yang berada di dalam sebuah gua sangatlah unik. Keunikan ini terjadi karena tidak pernahnya cahaya yang masuk ke gua, perubahan suhu yang sangat kecil, dan masih banyak faktor yang lain. Hal ini sangat berbeda dengan kondisi di permukaan yang boleh dibilang selalu mendapat cahaya. 6. Arkeologi dan Paleomologi Nilai arkeologi dari suatu gua bisa terlihat karena adanya suatu peninggalan jaman purba yang masih bisa kita saksikan di dalam gua tersebut seperti lukisan di dinding dan peninggalan lainnya seperti kapak batu, patung, dan barang pecah belah. Gua yang memiliki nilai arkeologi contohnya ada di : ª Maros, Leang-leang, Sumpang Bita, di Sulawesi Selatan. ª Fak-fak Irian Jaya ª Kalimantan Tengah, dan ª Flores Selain ke-6 ilmu id atas, masih banyak cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan penelusuran gua seperti antropologi, PERALATAN Peralatan Pribadi 1. Helm Helm untuk kegiatan caving berbeda dengan helm untuk rafting, climbing, atau olah raga lainnya. Tapi prinsipnya sama yaitu untuk melindungi kepala dari benturan benda keras. Untuk caving, helm ini pada bagian depannya dilengkapi dengan lampu penerangan. 2. Alat penerangan Alat ini sangat vital untuk digunakan mengingat kondisi di dalam gua selalu gelap.Dianjurkan untuk membawa minimal tiga buah alat penerangan yang berbeda cara penggunaanya. Contoh alat penerangan yang biasa dipakai : Boom, senter, dan lilin. 3. Pakaian Untuk pakaian, sangat dianjurkan memakai pakaian yang menutup seluruh badan dari kaki sampai leher, dan terbuat dari bahan yang cepat kering jika basah. Hal ini mengingat kebanyakan kondisi gua yang selalu dalam keadaan basah. 4. Sepatu Sepatu sangat dianjurkan dipakai dalam caving. Diutamakan yang tidak menyerap air (sepatu dari bahan karet), dan memiliki sol yang kuat. Sepatu sangat penting mengingat kondisi dasar gua yang kebanyakan berupa batuan yang runcing dan tajam 5. Pelampung Banyak digunakan pada penelusuran gua yang berupa sungai bawah tanah. 6. Sarung Tangan Digunakan untuk melindungi tangan dari gesekan dengan tali dan dinding gua /batu yang tajam dan kasar. 7. SRT (Single Rope Technic) Terdiri dari : 1. Seat harness 2. Ascender 3. Descender 4. Millon Rapide 5. Chest harness 6. Cow.s tail 7. Foot lopp Peralatan Kelompok 1. Tali Tali yang digunakan sama dengan yang digunakan pada tebing, tapi lebih baik menggunakan jenis static rope. 1. Ladders Ladder atau tangga tali, biasanya terbuat dari kawat baja, atau dari tali . Digunakan pada pitch pendek dengan bentuk lintasan overhang. 1. Padding Digunakan untuk melindungi tali dari gesekan. Terbuat dari bahan terpal yang kuat terhadap gesekan 1. Peralatan lain ª Webbing ª Carabiner ª Pengaman untuk tambatan ª Hammer ª Pulley PEMETAAN Pemetaan gua sangat penting untuk dilaksanakan. Gua yang sudah terpetakan akan memudahkan para penelusur selanjutnya untuk menyusuri gua tersebut. Misal untuk peenlitian, SAR, maupun untuk sekedar penyusuran biasa. Peralatan: * Pita ukur / meteran Gunakan meteran yang terbuat dari karet/plastik, ketelitian sampai Centimeter, dan panjang sejauh mungkin ( ± 30 m). * Kompas Gunakan kompas yang simpel seperti kompas orienteering. Kalau mau lebih teliti gunakan kompas bidik. * Clinometer Digunakan untuk mengukur sudut kemiringan terhadap bidang datar * Lembar catatan / Buku Digunakan untuk mencatat data yang diambil selama pemetaan. Gunakan kertas yang tahan air, seperti kertas minyak. ª Pensil ª Penghapus Kelengkapan Peta Hal – hal yang harus diperhatikan dan dicatat selama pemetaan diantaranya : ª Nama gua. Usahakan sesuai dengan nama yang diberikan oleh ª penduduk setempat. ª Grade peta. Digunakan untuk menunjukkan ketelitian daripada pemetaan. ª Lokasi Gua. ª Arah utara peta. ª Skala peta ª Cross section. Menggambarkan penampang melintang lorong gua sesuai skala. ª Simbol .simbol. Digunakan untuk menggambarkan keadaan / bentukan dari gua yang spesifik seperti runtuhan, sungai, dan danau. BAHAYA Bahaya yang kemungkinan datang di dalam gua sangat banyak. Sebagian besar merupakan faktor dari alam. Diantaranya : 1. terpeleset atau jatuh 2. tenggelam 3. tersesat 4. kedinginan 5. runtuhan atap atau dinding gua 6. hewan buas seperti hariamau, ular, kalajengking 7. keracunan gas seperti CO2 8. bahaya teknis yang disebabkan human error seperti kemampuan personil yang kurang, peralatan tidak bekerja baik ataupun rusak.

Rafting Di Sungai Palayangan Pengalengan


Selain Diving yang bikin sakauw, dag dig dug jeger, Rafting adalah yang nomor duanya. Intinya, setiap olaraga outbond yang berbau air selalu menantang dan berkesan, tak peduli berapa kali menjalani di tempat yang sama dengan aktifitas yang sama, Alam selalu memberikan sensasi yang berbeda seperti kata band PADI :
" Semua tak sama, tak pernah sama
   Apa yang kusentuh, apa yang kurasa
Satu hal yang pasti semakin bertambah tahun, semakin terkenal tujuan wisata tersebut akan semakin marak dengan tebaran sampah dimana-mana,,,sungguh sedih, Dilema di satu sisi ingin memajukan wisata dalam negri dan memajukan ekonomi masyarakat sekitar, namun di sisi lain akan berdampak merusak alam,,,seperti wisata di situ Cilenca ini, sebuah danau buatan yang terletak di ketingian kurang lebih 1550mdpl(diatas permukaan laut), seluas 180 hektar denga rata-rata kedalaman 17 m.
Panorama alam yang membingkainya sungguh ciamik, cantik dan asri, sejuk di pandang mata, perkubunan teh, sayuran dan pegunungan membuat Situ Cileunca tampak menawan.
Air situ Cileunca dimanfaat kan sebagai pembangkit listrik tenaga air dan sumber air bersih bagi masyarakat sekitar. Aliran airnya di aliri ke sungai Palayangan, yang di jadikan objek wisata arung jeram atau rafting. 3 tahun silam saat kali pertama rafting dan menginjakan kaki di situ cileunca, wisata alam itu tampak tertatah rapi, taman-taman dengan rumput yang rutin dipangkas, deretan aneka bunga mulai dari, merah, kuning, orange,pink, biru begitu cantik dan menggoda. Terpenting sampah tak bertebaran di mana pun.

Minggu, 22 maret 2015 kemarin, saya dan 5 teman kantor berniat rafting di sungai Palayangan. Setelah menempuh waktu 2 jam perjalanan dari Bandung, dengan pantat super duper kram, karena sang driver Pey-pey membawakan si merah hatinya dengan super kencang dan non stop, membelah jalan berkelok-kelok dan mendaki. Akhirnya kami berenam selamat sampai tujuan dengan sedikit kesel karena tiket masuk yang harus kami bayar sebesar Rp. 45.000,- yang seharusnya gratis,,karena kami adalah tamunya Gravity Adventure. Namun apadaya pembayaran tak dapat dikembalikan, jadilah nasi mejadi bubur yang asli ga bisa di olah kembali (-__-)"""
Ini yang ke empat pengalaman rafting ku, sensasinya tak serame hujan badai,,,jantung pun tak bertalu-talu riuh gemuruh, mungkin karena sudah tahu medan yang akan diarungi. Satu perahu karet berisi 6 orang plus 1 orang pemandu Kang Jawa. Aneh rasanya mau rafting tapi yang pegang dayung cuma 2 orang di depan dan 1 oran pemandu, walhasil kami (aku, uti, mumun, feri) bagai pejabat yang lagi duduk manis di dayung oleh para perajurit (*_*). Asli ini malah bikin ga rame, ga seru.!!!!!
Tutorial rafting pun diberikan Kang Jawa sembari mengayu perahu karet menyeberangi situ Cileuca.
"Kalau saya bilang "BUM" >>semua jongkok di dasar perahu
"Kalau saya bilang "STOP">>Yang pegang dayung berhenti mengayu
"Kalau saya bilang "KIRI GESER KANAN">>yang duduk sebelah kiri merapat kekanan, begitu sebaliknya
"Kalau saya bilang "GOYANG-GOYANG">>semua orang buat gerakan goyang DUMA...(JIAAAHHH...Doi pikir mau kontes dangdut kalee (*__*)

30 menit pertama mengarungi sungai Palayangan seru-seru asik, terlebih belum 5 menit kita sudah bertemu dengan "BUM", alias jeram yang bikin basah kuyup.  10 menit berselang turunan domba atau jeram yang paling tinggi (sekitar 1 meteran) siap menghadang laju kapal karet kami...walhasil debit air yang penuh dengan arus yang kencang bikin ARRRRRGGGGHHHH,,Sekuat tenaga.(*__*)". Berbeda dengan 3 tahun silam riak air tak segemuruh sekarang laju kapal pun lincah meliuk-liuk kiri kanan, menghindari bebatuan kali juga jeram-jeram yang menghadang. Sayang di sayang jeram-jeramnya tak berselang lama sensasi nya hanya kurang dari 30 menit. Rafting di kala musim penghujan memang asik, selain dapat debit air yang penuh dan berarus kencang, jeramnya pun bikin Super Duper Menantang, namun kurangnya adalah air sungai yang tak begitu jernih

Lagi asik-asiknya menikmati riak air beserta hutan pinus yang menjulang tinggi di kiri kanan sungai, tiba-tiba bahu ku di colek Kang Jawa, "Kamu pipis ya?" iksss kaget lah aku, orang ga pipis koq,,eee tiba-tiba dengan santai dan tanpa rasa berdosa yang mendalam si Mumun bilang "AKU, Kang"...wele..wele..wele..wele,,,Dasar si Halimun alias Mumun cantik-cantik jorokkkkk,,,mana aku duduk di samping dia lagi...ikss rasanya pengen di jeburin ke sungai ni doi. Apalagi tak lama berselang kami melewati jeram setinggi setengah meter, sukses dech air masuk ke tengorokan ku,,,,ikssss pasti air pipisnya Halimun bercampur dengan sari pati air sungai Palayangan. (-___-)""".
Kocaknya si kang Jawa, adalah saat doi itam manis ini, ngerjain kami, dengan bilang ayo semua bilang "CISSSS" itu kamera di atas, walahasil kami berenam pun pasang wajah paling manis sembari mencari-cari sang kameramen, tak lama kami berenam terlonjat kaget saat perahu karet membentur keras tebing sungai...HAHAHAHAHAHA,,Kang Jawa pun tertawa teramat keras, jadilah kami terpingkal-pingkal tertawa,  merasa tertipu...yaaaa,,"KENA DECH"
Turunan Domba

Tak berasa setelah teriak-teriak  memecah kesunyian aliran sungai, 50 menit sudah berlalu, yang artinya kami sudah sampai akhir dari rafting di sungai Palayangan. Seru Bangetsssss??? LUMAYAN,,habis terlalu singkat (-__-)"", tapi tetap harus dinikamti merefressing diri dari penatnya beban hidup di perkotaan. Hutan pinus dan suara gemercik air bikin jiwa dan hati ini damai. Bonus dari Rafting di sungai Palayangan ini adalah View Yang luar biasa indah. Saat kembali pulang ke situ Cileunca, kami melewati perkebunan teh, yang membentang menbentuk barisan bukit, lembah juga ngarai. Serunya lagi kami diangkut dengan mobil angkutan desa melalui jalan bebatuan, membela perkebunan teh yang menanjak curam dan tinggi. Habis berarung jeram di sungai, lanjut dengan offroad di darat plus goyang duma nya yang mengalun kencang dari speakers mobil.

Dingin menyergap mebuat  perut keroncongan, cacing-cacing penghuni istana usus mulai berteriak histris, sukurlah sampai di markasnya Gravity adventure di jamu dengan Bandrek yang menghangatkan tubuh plus gorengan yang berwarna kuning pucat,  lumayan,,untuk meredam gemuruh cacing perut. Makan siang di sajikan setelah kami mandi dan harum. Sebetulnya asik makan dengan pemandangan situ Cileuncah namun banyak nya lalat dan pondok-pondok yang tampak kumuh dan tak terawat bikin nafsu makan drastis menurun,,,,(-__-)"".

Alam situ Cileuncah dan sungai Palayangan begitu dasyat dan indah, namun bila, penuh dengan sampah maka bak gadis cantik jelita namun berpakain kumal dekil, maka tak ada daya tariknya. Andai kata  bersih, rapi dan alami..maka wisata situ Cileunca tak ubahnya menjadi Daya tarik wisatawan mancanegara, arrrrrgghhhh, kenapa budaya kita bila suatu kawasan sudah terkenal, bukannnya makin di jaga keindahan, kebersihan dan kealamiannya, mala semakin di eksplore tanpa sadar,,bawah MANUSIA yang membutuhkan alam bukan ALAM yang membutuhkan Manusia. :'(

Rock Climbing

Selasa, 19 Mei 2015

ROCK CLIMBING

Panjat tebing adalah suatu olahraga yang mengutamakan kelenturan dan kekuatan tubuh, kecerdikan serta ketrampilan pengguanaan peralatn dan dalam menyiasati tebing itu sendiri.

Prosedur Pemanjatan
Pemanjatan dilakukan dengan selalu berpegang pada prinsip keseimbangan tubuh ditarik keatas oleh tiga bagian anggota tubuh (dua tangan dan satu kaki atau sebaliknya), sementara satu anggota lainnya digunakan untuk mencari tempat pegangan atau pijakan baru yang lebih tinggi



Safety

Keselamatan harus ditempatkan diurutan pertama kegiatan panjat tebing. untuk itu diperlukan minimaldua orang, satu orang sebagai perintis jalur (Leader) dan seorang lagi sebagai pengaman pemanjatan (Belayer).Panjat Tebing Alam (Kondisi Alam)
Teknik pemanjatan menjaga keseimbangan, tiga kategori umum dalam teknik pemanjatan :

1. free climbing
Memanjat pada permukaan tebing yang masih terdapat tonjolan atau rongga yang memadai sebagai pijakan kaki dan tangan. Free climbing menggunakan alat, hanya mengandalkan kekuatan.

2. friction
Teknik yang hanya mengandalkan gaya gesekan sebagai penumpu. Dilakukan pada permukaan tebing yang tidak terlalu vertical.

3. fissure climbing
Teknik yang memanfaatkan celah. Dalam pemanjatan menggunakan anggota badan.

Teknik pemanjatan akibat perubahan zaman:

1. AID (Artifical) Climbing
Pemanjat menggunakan langsung peralatan untuk menambah ketinggian.
2. Boldering
Seni memanjat tebing-tebing pendek yang umum nya melatih kemampuan memanjat.
3. Soloing
Hanya mengandalkan kekuatan tubuh tetapi menggunakan alat keselamatan.

Peralatan panjat tebing:
A. Tali

Tali melindungi para pemanjatan, apabila jatuh tidak menyentuh tanah.

B. Webbing, digunakan untuk membuat:
  • Harness
a) Full body harness

b) Seat harness

c) Chest harnes
  • Runner
  • Etrier
C. Karabiner
D. Piton / paku tebing
E. Chock
F. Helm
G. Sepatu
H. Runner

Runner ( tempat tumpuan ) tali pengaman yang dipasang oleh pemanjat pertama untuk memperkecil jarak jatuh yang akan timbul

I. Bilay

Pergantian kata pemanjat (pengaman pemanjat).

Bilay :

1) Bilay tubuh : teknik bilay, yang menggunakan tubuh sebagai media untuk mengamankan tali pemanjatan.

2) Bilay alat : mengamankan tali pemanjatan dengan menggunakan alat

* Pull :tali pemanjatan ditarik oleh bilayer
* Slack :tali pemanjatan dilonggarkan
* On bilay :pemberitahuan pemanjatan pada bilayer
* Belay on :bilayer siap mengamankan pemanjat
* Climbing :pemanjat mulai memanjat
* Off bilay :pemanjat sudah tidak perlu di bilay karena po sisinya sudah aman.
* Rock :pemanjat mengalami keguguran batu.

Tingkat kesulitan dalam pemanjatan:
1) Kelas Satu
Berjalan tegak tanpa menggunakan peralatan pendakian
2) Kelas dua
Pendakian pada daerah yang tidak terlalu terjal namun sudah dilengkapi dengan perlengkapan kaki yang memadai dan dibantu oleh tangan
3) Kelas tiga
Medan pendakian dibutuhkan peralatan dan teknik khusus untuk mendaki.
4) Kelas empat
Pendakian dinding terjaldibutuhkan peralatan yang khusus juga.
5) Kelas lima
Pendakian dinding terjal tegak lurus, menggunakan perlengkapan memanjat
6) Kelas enam
Pendakian gunung sepenuhnya bergantung pada alat.

Terminology tebing :

1) Face :untuk vertical 900
2) Hang :untuk dinding yang menjorok keluar(900<1320)>0
4) Roof :dinding yang membentuk atap
5) Crack :untuk celah antara batu sempit, dangkal yang memanjat
6) Chimney :untuk celah antara batu berbentuk memanjang lebar, bisa
untuk dimasuki manusia.

System pemanjatan :
1) Himalaya tatic
System pemanjatan dengan rute panjang sehingga membutuhkan waktu yang lama. Pemanjatan terdri atas beberapa kelompok dan basecamp.berhasilnya satu orang dari tim, maka satu kelompok itu dinyatakan berhasil.
2) Alpine tatic
System ini dikembangkan dipegunungan eropa yang mempunyai tujuan semua pemanjat harus sampai dipuncak baru dikatakan berhasil.
3) Slegg tatic
Gabungan antara teknik himalaya dan alpine, pertama-tama himalaya baru alpine taktik.

Quam un skeptic

Nostrum and exerci
Delete this widget in your dashboard. This is just an example.

Samged familie

Nostrum and exerci
Delete this widget in your dashboard. This is just an example.

Faucibus tincidunt

Nostrum and exerci
Delete this widget in your dashboard. This is just an example.